Dulu saya pikir wawancara itu urusan perusahaan besar. Ada HRD, ada psikolog, ada ruangan khusus dengan meja panjang. Ternyata, ketika saya dipercaya bantu merekrut orang di sebuah usaha kecil milik keluarga, semuanya berubah. Saya yang biasanya cuma jadi pelamar, tiba-tiba duduk di sisi seberang meja. Dan itu terjadi hampir tiap pagi selama beberapa minggu.
Bukan karena saya hebat. Lebih karena usaha kecil memang begini: semua orang pegang banyak peran. Saya yang tadinya cuma ngurus operasional harian, mendadak jadi "orang wawancara". Awalnya kikuk, lama-lama jadi rutinitas yang justru banyak mengubah cara saya melihat orang.
Wawancara Pagi Sebelum Toko Buka
Jam wawancara kami selalu sama: sekitar jam delapan pagi, setengah jam sebelum toko buka. Pemilik usaha kecil biasanya nggak punya waktu luang siang hari. Jadi ya, wawancara numpang di sela-sela persiapan buka. Kursinya kadang kursi plastik di gudang, kadang di meja kasir yang belum sempat dibersihkan.
Di situasi kayak gini, saya sadar satu hal: pelamar yang datang tepat waktu di jam yang nggak nyaman itu sudah ngasih sinyal pertama. Bukan soal disiplin formal, tapi soal kesediaan menyesuaikan diri. Usaha kecil butuh orang yang fleksibel, bukan yang nunggu kondisi ideal dulu baru mau kerja.
Baca juga: Sibuk Banget? 5 Menit Buat Siapin Karier & Wawancara
Ada satu pelamar yang datang jam tujuh lebih, bawa map rapi, padahal dia tahu wawancaranya jam delapan. Saya tanya kenapa datang awal. Jawabnya sederhana: "Takut macet, Pak, jadi saya berangkat lebih pagi." Dia saya rekomendasikan. Bukan karena mapnya, tapi karena cara dia mikir.
Yang Sering Kelewat Saat Wawancara di Usaha Kecil
Selama jadi pewawancara dadakan ini, saya lihat sendiri kesalahan yang sering dilakukan pemilik usaha kecil. Dan jujur, saya dulu juga hampir melakukan hal yang sama.
Terlalu Fokus ke Skill, Lupa ke Sikap
Wajar sih. Usaha kecil butuh orang yang langsung bisa kerja. Tapi dari pengalaman saya, orang yang skill-nya pas tapi sikapnya nggak cocok justru lebih merepotkan. Di usaha kecil, semua orang kerja berdempetan. Satu orang yang nggak bisa diajak kompromi bisa bikin suasana pagi jadi panas seharian.
Saya pernah merekrut orang yang CV-nya paling bagus di antara pelamar lain. Tiga minggu kemudian dia berhenti karena nggak betah kerja "serba bareng". Pelajaran mahal.
Sejak itu, saya selalu sisihkan waktu di akhir wawancara buat ngobrol santai. Nanya soal kebiasaan pagi, cara dia menyelesaikan masalah kecil, atau gimana dia bersikap kalau salah. Jawaban di sesi santai ini sering lebih jujur daripada jawaban formal.
Nanya Terlalu Banyak, Dengerin Terlalu Sedikit
Ini kesalahan klasik. Saya dulu bikin daftar pertanyaan panjang, terus nembak satu-satu kayak interogasi. Pelamar jadi tegang, jawabannya jadi template. Padahal yang saya butuh justru cerita aslinya.
Setelah beberapa kali, saya ubah pendekatan. Satu pertanyaan besar, lalu saya diam dan dengerin. Kadang saya cuma nanya: "Ceritain pengalaman kerja yang paling bikin kamu belajar banyak." Dari situ, saya bisa dengar dia ngomong jujur atau nggak. Pemilik usaha kecil nggak butuh jawaban sempurna, butuh kejujuran.
- Dengerin cara dia cerita, bukan cuma isi ceritanya
- Perhatiin apakah dia bertanya balik soal pekerjaan
- Cek apakah dia paham konteks usaha kecil, bukan cuma gaji
- Jangan takut nanya hal sederhana seperti kebiasaan pagi
Pelajaran yang Saya Bawa Sampai Sekarang
Dari rutinitas wawancara pagi itu, ada beberapa hal yang saya pegang sampai sekarang. Pertama, wawancara bukan ajang cari orang sempurna. Usaha kecil nggak akan dapat kandidat ideal, dan nggak perlu. Yang penting orangnya mau belajar dan cocok dengan ritme kerja yang ada.
Kedua, kejujuran soal kondisi usaha itu penting. Saya selalu bilang apa adanya: jam kerja bisa panjang, tugas bisa campur aduk, dan nggak ada ruangan khusus buat istirahat. Pelamar yang tetap semangat setelah dengar itu biasanya yang bertahan lama. Yang langsung berubah raut mukanya, ya sudah, nggak perlu dipaksa.
Ketiga, dan ini yang paling saya rasain, wawancara itu dua arah. Pelamar juga sedang menilai kita sebagai pemilik usaha. Kalau kita datang terlambat, nggak siap, atau ngobrol sambil main HP, mereka juga mencatat. Reputasi usaha kecil cepat menyebar di lingkungan sekitar, termasuk soal cara kita memperlakukan pelamar.
Jadi buat kamu yang sekarang pegang usaha kecil dan sering wawancara sendiri, nggak perlu merasa kurang profesional karena wawancaranya di gudang atau sambil nyiapin buka toko. Yang bikin wawancara bermutu bukan ruangannya, tapi keseriusan kita mendengarkan. Saya belajar itu tiap pagi, satu pelamar demi satu pelamar, dan sampai sekarang masih kepakai.