Gue bukan tipe orang yang betah duduk diam di satu tempat. Dua tahun terakhir ini, kerjaan gue kebetulan cukup fleksibel buat dibawa jalan. Kadang dari kafe di Bandung, kadang dari kosan teman di Jogja, sesekali dari bandara sambil nunggu flight delay. Tapi jujur, selama ini gue cuma jalan tanpa sistem. Kerja ya kerja, jalan ya jalan. Nggak ada aturan main.
Sampai sebulan lalu, gue mutusin buat nyoba satu hal: nerapin rutinitas kerja ala digital nomad beneran. Bukan cuma pindah lokasi, tapi bener-bener ngatur ritme harian kayak orang yang emang hidupnya di jalan terus. Gue kasih waktu 30 hari. Kalau nggak ada perubahan, ya udah, balik ke cara lama.
Ternyata hasilnya nggak main-main. Ada beberapa hal yang berubah drastis, dan sebagian malah nggak gue duga sebelumnya.
Ritme Kerja Jadi Lebih Teratur, Meski Lokasinya Pindah-pindah
Sebelumnya, gue sering kerja ngikutin mood. Kalau lagi di tempat baru yang nyaman, kerja bisa sampai jam 2 pagi. Kalau lagi di tempat yang sumpek, ya boro-boro kerja, buka laptop aja malas.
Setelah sebulan nerapin rutinitas yang lebih terstruktur, gue sadar satu hal: otak kita butuh sinyal yang konsisten, bukan lokasi yang konsisten. Jadi gue bikin semacam "anchor" — hal-hal kecil yang selalu gue lakuin sebelum mulai kerja, di mana pun gue berada.
Pagi hari, apa pun kota-nya, gue selalu mulai dengan 20 menit jalan kaki keliling area sekitar penginapan. Nggak pakai tujuan, cuma jalan. Setelah itu cari kopi, balik ke tempat nginep, baru buka laptop. Urutannya sama terus. Yang berubah cuma pemandangannya.
Efeknya? Dalam seminggu pertama aja, gue udah bisa mulai kerja tanpa harus nunggu "mood bagus" datang. Karena tubuh gue udah tahu: habis jalan pagi dan kopi, waktunya kerja. Simpel, tapi ngena banget.
Cara Gue Ngobrol di Wawancara Kerja Ikut Berubah
Ini bagian yang paling nggak gue antisipasi.
Sebulan jalan terus sambil kerja bikin gue ketemu banyak orang baru. Mulai dari barista yang ngajak ngobrol soal asal-usul, sesama remote worker di coworking space, sampai orang di kereta yang tiba-tiba curhat soal kerjaannya. Mau nggak mau, gue jadi terlatih ngobrol sama orang asing dalam konteks yang nggak formal.
Nah, efeknya kerasa banget waktu gue ada sesi wawancara kerja online di minggu ketiga. Biasanya gue suka grogi, jawaban bertele-tele, dan sering kehilangan fokus. Kali ini beda. Gue ngobrol kayak lagi ngobrol sama orang di kafe aja. Santai tapi tetap profesional.
Kemampuan ngobrol santai ternyata bukan bakat. Itu otot yang bisa dilatih, dan traveling sendirian adalah gym-nya.
Pewawancara bahkan sempat bilang, "Kamu kelihatan nyaman banget ya ngobrolnya." Padahal detik sebelumnya gue baru kelar pindah dari satu kota ke kota lain sambil bawa ransel dua buah. Tapi justru karena udah terbiasa adaptif, gue nggak lagi ngeliat wawancara sebagai situasi menegangkan. Cuma ngobrol biasa aja, bedanya topiknya soal pengalaman kerja.
Latihan yang Nggak Sengaja
Yang menarik, latihan ini nggak gue rencanain. Gue nggak pernah duduk mikir, "Oke, hari ini gue mau latihan public speaking." Nggak. Semua terjadi natural karena gue dipaksa berinteraksi sama lingkungan baru terus-menerus.
Kalau kamu sering traveling, coba deh sadari: setiap kali kamu nanya arah ke orang lokal, setiap kali kamu order makanan dan ngobrol sebentar sama penjualnya, setiap kali kamu check-in hostel dan cerita singkat soal perjalananmu — itu semua latihan komunikasi. Dan skill itu langsung kepake di dunia kerja, terutama saat wawancara.
Batas Antara "Kerja" dan "Hidup" Jadi Lebih Jelas
Ini mungkin kedengeran kontradiktif. Biasanya orang bilang, kerja sambil traveling itu bikin batas kerja dan hidup jadi kabur. Kerja terus, jalan terus, nggak ada bedanya.
Tapi pengalaman gue justru sebaliknya. Karena gue sadar lokasi gue terus berubah, gue jadi lebih tegas soal kapan kerja dan kapan nggak. Gue bikin aturan sederhana buat diri sendiri:
- Jam 8 pagi sampai 12 siang: kerja fokus, HP mode senyap, nggak buka sosmed
- Jam 12 sampai 2 siang: makan siang sambil eksplor sekitar, nggak buka laptop
- Jam 2 sampai 5 sore: kerja lagi kalau ada deadline, kalau nggak ya jalan-jalan
- Setelah jam 5 sore: bener-bener stop. Nggak ada email, nggak ada chat kerjaan
Awalnya susah. Tapi setelah dua minggu, tubuh gue terbiasa. Dan yang paling nggak gue sangka, produktivitas gue justru naik. Karena gue tahu waktu kerja gue terbatas, gue jadi lebih fokus. Nggak ada lagi scrolling Twitter selama satu jam di tengah kerjaan.
Efek sampingnya: gue jadi lebih menikmati waktu jalan-jalan. Nggak ada rasa bersalah karena ninggalin kerjaan. Nggak ada pikiran "harusnya gue lagi kerja sekarang." Semuanya udah ada porsinya masing-masing.
Yang Perlu Kamu Siapkan Kalau Mau Coba
Kalau kamu sering traveling dan pengen coba rutinitas kayak gini, ada beberapa hal yang menurut gue penting banget buat disiapin. Bukan alat atau gadget mahal, tapi lebih ke mindset dan kebiasaan kecil.
Pertama, tentuin anchor harian kamu. Apa pun itu. Bisa olahraga pagi, baca buku 10 menit, atau dengerin podcast sambil sarapan. Yang penting konsisten dan bisa dilakuin di mana aja. Anchor ini yang bakal jadi jangkar otak kamu biar nggak bingung harus mulai dari mana.
Kedua, jangan paksain kerja di tempat yang nggak nyaman. Gue belajar ini dari pengalaman. Pernah suatu hari gue maksain kerja di kafe yang berisik banget karena males cari tempat lain. Hasilnya? Dua jam kerja, nol progress. Kadang pindah tempat itu bukan pemborosan waktu, tapi investasi fokus.
Ketiga, siapin satu hari per minggu buat bener-bener nggak ngapa-ngapain. Nggak jalan, nggak kerja, nggak eksplor. Cuma di kamar, nonton film, atau tidur. Gue sadar ini penting banget di minggu ketiga waktu gue mulai ngerasa capek secara mental. Tubuh boleh kuat jalan terus, tapi kepala juga butuh recharge.
Yang terakhir, dan ini yang paling krusial: jangan bandingin ritme kamu sama orang lain. Setiap orang punya kapasitas beda. Ada yang bisa kerja 10 jam sambil jalan-jalan, ada yang cukup 4 jam. Nggak ada yang salah. Yang penting kamu tahu batas kamu sendiri dan nggak maksain diri melebihi itu.
Sebulan emang belum cukup buat bilang ini cara terbaik. Tapi buat gue pribadi, perubahan yang gue rasain cukup nyata buat bikin gue lanjutin. Kerja sambil jalan bukan cuma soal lokasi, tapi soal gimana kita ngatur diri di tengah ketidakpastian. Dan ternyata, di situlah justru banyak pelajaran yang nggak kita dapet kalau terus diam di satu tempat.