Dua tahun lalu, saya duduk di ruang tunggu sebuah kantor konsultan. Di tangan saya ada map berisi CV, tapi di kepala saya ada hal lain: anak saya baru berusia tujuh minggu, dan malam sebelumnya saya cuma tidur tiga jam karena dia rewel terus. Saya ingat betul momen itu — saya mengoleskan pelembab ke kantung mata di toilet kantor, sambil mikir, "Ini bakal kelihatan kayak orang yang nggak fokus, nggak sih?"
Yang bikin lucu, saya nggak sendirian. Ternyata orang yang mewawancarai saya juga punya anak kecil. Dia sempat bilang, "Anak saya juga baru masuk TK, jadi saya ngerti banget rasanya." Sesi wawancara yang tadinya saya bayangkan menegangkan malah jadi obrolan yang cukup hangat. Dari situ saya sadar satu hal: jadi orang tua baru bukan berarti karier harus berhenti, tapi cara kita main di lapangan ini memang berubah.
Baca juga: Kenapa Masih Kepikiran Kerja Setelah Pensiun? Ini Jawabannya
Rasa bersalah itu datang dua arah
Ada satu hal yang jarang dibahas terang-terangan, padahal dialami hampir semua orang tua baru: rasa bersalah yang datang dari dua sisi. Di kantor, kamu merasa bersalah karena sering izin atau nggak bisa lembur. Di rumah, kamu merasa bersalah karena mikirin kerjaan sambil main sama anak. Gue pernah ada di fase ini selama beberapa bulan dan rasanya kayak nggak pernah "cukup" di mana pun.
Yang bikin capek, rasa bersalah ini nggak kelihatan di CV. Nggak ada kolom "sedang jadi orang tua baru" di formulir lamaran. Jadi banyak dari kita diam-diam berusaha tampil seolah semuanya normal, padahal di dalam lagi kacau. Kalau kamu ngerasa begini, tenang — ini bukan tanda kamu lemah. Ini tanda kamu peduli sama dua hal sekaligus, dan dua-duanya penting.
Wawancara kerja: jujur secukupnya, bukan curhat semua
Nah, ini bagian yang sering bikin orang tua baru bingung. Seberapa jujur sih kita boleh cerita soal kondisi rumah ke pewawancara? Jawaban gue: jujur soal kebutuhan praktis, tapi nggak perlu cerita detail yang nggak relevan.
Contoh yang gue lakukan waktu itu: ketika ditanya soal ketersediaan, gue bilang terus terang kalau gue butuh jam pulang yang cukup teratur karena punya bayi. Tapi gue juga langsung sambung dengan solusi — misalnya gue siap kerja lebih awal, atau siap kalau sesekali ada urusan mendadak asal dikasih tahu sebelumnya. Jadi bukan cuma "saya ada keterbatasan", tapi "ini cara saya tetap bisa diandalkan".
Yang gue hindari: masuk ke drama pribadi. Nggak perlu cerita soal persalinan, soal mertua, atau soal berapa kali bangun malam. Pewawancara butuh tahu kamu bisa kerja, bukan butuh tahu isi rumahmu. Bedanya tipis, tapi penting.
Beberapa hal yang membantu saat wawancara di fase ini
- Siapkan jawaban soal fleksibilitas. Bukan cuma soal "bisa nggak lembur", tapi juga soal bagaimana kamu mengatur waktu. Jawaban yang konkret lebih meyakinkan daripada janji kosong.
- Tanya balik soal budaya kerja. Tanyakan apakah tim di sana terbiasa pulang tepat waktu, atau ada kebijakan kerja hybrid. Ini bukan tanda kamu kurang semangat, justru tanda kamu serius memilih tempat yang cocok.
- Bawa cerita hasil kerja, bukan cerita perjuangan. Fokus ke apa yang sudah kamu selesaikan, bukan ke betapa susahnya kamu sampai di titik itu.
- Jangan minta maaf karena jadi orang tua. Ini kelihatan sepele, tapi banyak orang tanpa sadar bilang "maaf ya kalau saya agak lambat belakangan ini karena anak". Kamu boleh jujur, tapi nggak perlu minta maaf untuk hal yang wajar.
Di rumah: kecilin target, besarin toleransi
Selain soal wawancara, ada satu hal praktis yang gue pelajari dengan susah payah: nggak semua hal harus selesai hari ini. Dulu gue tipe yang bikin to-do list panjang dan merasa gagal kalau nggak centang semua. Setelah punya anak, gue terpaksa ubah cara main. Sekarang gue pilih tiga hal prioritas per hari — sisanya bonus.
Ini kedengarannya klise, tapi efeknya nyata. Waktu gue berhenti menuntut diri sendiri jadi "produktif kayak sebelum punya anak", energi gue buat kerjaan justru lebih stabil. Gue nggak lagi kerja sambil setengah pikiran di rumah, karena gue udah terima kalau hari ini memang cuma bisa segini.
Karier itu lari maraton, bukan sprint. Orang tua baru yang ngerti ritmenya sendiri biasanya bertahan lebih lama daripada yang maksain tempo orang lain.
Ngobrol sama pasangan itu bukan opsional
Satu lagi yang sering kelewat: pembagian beban di rumah itu urusan tim, bukan urusan satu orang. Gue dan pasangan sempat bikin "jadwal kacau" selama beberapa minggu — siapa yang bangun malam, siapa yang antar ke dokter, siapa yang bisa ambil kerjaan tambahan minggu ini. Nggak romantis, memang. Tapi jujur, ini yang bikin gue nggak ambruk waktu itu.
Kalau kamu sedang cari kerja atau mau wawancara dalam waktu dekat, coba diskusikan dulu sama pasangan soal ekspektasi. Misalnya, kalau kamu dapat kerja dengan jam lebih panjang, siapa yang pegang urusan rumah? Kalau kamu butuh waktu belajar buat persiapan wawancara, kapan waktunya? Hal-hal begini kelihatan kecil, tapi kalau nggak dibicarakan, ujungnya jadi rasa kesal yang numpuk.
Pada akhirnya, jadi orang tua baru dan tetap main di dunia kerja itu soal menyesuaikan, bukan soal memilih salah satu. Kamu nggak harus jadi versi dirimu yang dulu, dan kamu juga nggak harus jadi orang tua yang sempurna. Yang penting, kamu tahu prioritasmu, berani jujur soal kebutuhanmu, dan nggak terlalu keras sama diri sendiri. Kalau wawancara berikutnya datang dan kamu masih agak kurang tidur, nggak apa-apa. Yang dinilai bukan kantung matamu, tapi cara kamu menjawab dan cara kamu berpikir.